Hambatan Komunikasi Lintas Budaya Dalam Dakwah Multikultural Moderen
Hambatan Komunikasi Lintas Budaya Dalam Dakwah Multikultural Moderen
Disusun Oleh :
Sheila Machmuda (B01219051)
Komunikasi dan Penyiaran Islam
Fakultas Dakwah dan Komunikasi
Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
2021
ABSTRAK
Fenomena dakwah dalam Kehidupan modern
yang ditandai dengan peningkatan kualitas perubahan sosial yang lebih jelas,
sudah meninggalkan fase transisi globalisasi. Masyarakat modern cenderung
memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi dari masyarakat transisi sehingga
memiliki pengetahuan yang lebih luas dan pola pikir lebih rasional. Fenomena
tersebut merupakan sebuah tantangan dakwah multikultural modern atau terdapat
hambatan komunikasi atau communication barrier. Menurut Chaney dan Martin
(2004) dalam bukunya Intercultural Business Communication, diartikan sebagai
sesuatu yang menjadi penghalang untuk terjadinya komunikasi yang efektif. Perbedaan
budaya sendiri merupakan salah satu faktor penghambat dalam komunikasi antar
budaya, karenanya hambatan–hambatan komunikasi tersebut juga sering disebut
sebagai hambatan komunikasi antar budaya, sebagai hambatan dalam proses
komunikasi yang terjadi karena adanya perbedaan budaya antara komunikator dan
komunikan.
PEMBAHASAN
Komunikasi adalah
prasyarat kehidupan manusia. Kehidupan manusia akan tampak "hampa"
atau tiada kehidupan sama sekali apabila tidak ada komunikasi. Karena tanpa
komunikasi, interaksi antarmanusia, baik secara perorangan, kelompok ataupun
organisasi tidak mungkin dapat terjadi. Sedangkan, Komunikasi
Islam adalah proses penyampaian pesan-pesan keislaman dengan menggunakan
prinsip-prinsip komunikasi dalam Islam. Maka komunikasi Islam menekankan pada
unsur pesan (message), yakni risalah atau nilai-nilai Islam, dan cara (how),
dalam hal ini tentang gaya bicara dan penggunaan bahasa (retorika). Pesan-pesan
keislaman yang disampaikan dalam komunikasi Islam meliputi seluruh ajaran
Islam, meliputi akidah (iman), syariah (Islam), dan akhlak (ihsan). Pesan-pesan
keislaman yang disampaikan tersebut disebut sebagai dakwah.
Dakwah merupakan proses kegiatan mengajak,
menyeru yang dilakukan oleh seorang da’i kepada mad’u untuk selalu konsisten di
jalan Allah. Di dalam proses berdakwah ini tentu saja banyak aspek yang harus
diperhatikan agar proses dakwahnya berhasil tidak terkecuali aspek psikologis
yang baik seorang da’i saat berkomunikasi dengan mad’u. Tipe dakwah dalam
komunikasi lintas budaya, dakwah terdapat 6 tipe yaitu :
1. Dakwah
Nafsiyah; dakwah kepada diri sendiri (interpersonal) sebagai upaya untuk
memperbaiki diri/membangun kualitas dan kepribadian diri yang Islami.
2. Dakwah
Fardiyah; proses ajakan atau seruan kepada jalan Allah yang dilakukan oleh
seorang da’i kepada perorangan (interpersonal) yang dilakukan secara langsung
tatap muka/tidak tatap muka yang bertujuan untuk membuat mad’u lebih baik dan
diridhai Allah.
3. Dakwah
Fi’ah; dakwah yang dilakukan seorang da’i terhadap kelompok kecil dalam suasana
tatap muka bisa berdialog serta respon mad’u terhadap da’i dan pesan dakwah
yang disampaikan dapat diketahui seketika.
4. Dakwah
Hizbiyah (jamaah); dilakukan oleh da’i yang mengidentifikasi dirinya dengan
atribut suatu lembaga/organisasi dakwah tertentu kemudian mendakwahi anggotanya
atau orang lain di luar anggota tersebut.
5. Dakwah
Ummah; proses dakwah yang dilaksanakan pada mad’u yang bersifat massa
(masyarakat umum).
6. Dakwah
Syu’ubiyah Qabailiyah (antar suku bangsa); proses dakwah yang berlangsung dalam
konteks antar bangsa, suku dan budaya.
Hambatan
komunikasi antarbudaya (intercultural communication barriers) adalah faktor-faktor
baik fisik maupun psikologis yang dapat mencegah atau menghalangi terjadinya
komunikasi yang efektif. Hambatan tersebut muncul dalam setiap bentuk atau
konteks komunikasi, termasuk salah satunya komunikasi antarbudaya. Hal ini
dapat disebabkan karena kebudayaan menyediakan cara-cara berpikir bagi manusia;
cara melihat, mendengar, dan menerjemahkan dunia sehingga satu kata dapat
dimaknai berbeda oleh orang-orang yang berbeda kebudayaan, bahkan meski mereka
berbicara dalam bahasa yang sama. Adapun faktor penghambat dalam komunikasi
antarbudaya yang telah dikemukakan oleh para ahli, diantaranya yakni :
1. Andaian kesamaan
Kesalahpahaman dapat muncul karena
kita sering berpikir bahwa ada kesamaan di antara setiap manusia di seluruh
dunia yang dapat membuat proses berkomunikasi menjadi mudah. Padahal
kenyataannya, bentuk-bentuk adaptasi terhadap kebutuhan baik biologis maupun
sosial serta nilainilai, kepercayaan, dan sikap di sekeliling kita adalah sangat
berbeda antara budaya satu dengan yang lain.
2. Perbedaan bahasa
Permasalahan dalam penggunaan bahasa
adalah apabila seseorang hanya memperhatikan satu makna saja dari satu kata
atau frasa yang ada pada bahasa baru, tanpa mempedulikan konotasi atau
konteksnya.
3. Kesalahan interpretasi nonverbal
Orang-orang dari budaya yang berbeda
mendiami realitas sensori yang berbeda pula. Mereka melihat, mendengar, dan
merasakan hanya pada apa yang dianggap bermakna bagi mereka.
4. Stereotip dan Prasangka
Stereotip merupakan penghalang dalam
komunikasi sebab dapat mempengaruhi cara pandang yang objektif terhadap suatu
stimulus. Stereotip muncul karena, telah ditanamkan dengan kuat sebagai mitos
atau kebenaran sejati oleh kebudayaan seseorang dan terkadang merasionalkan
prasangka.
5. Kecenderungan untuk menghakimi/menila
Kecenderungan untuk menghakimi, untuk
menerima, atau menolak pernyataan dan tindakan dari orang atau kelompok lain,
sebelum memahami pikiran dan perasaan yang disampaikan oleh orang itu sesuai
sudut pandangnya.
6. Kecemasan tinggi
Orang yang cakap atau kompeten dalam
berkomunikasi antarbudaya, seseorang harus mampu mengatasi berbagai masalah
yang ada, termasuk rasa khawatir atau cemas ketika berinteraksi dengan individu
dari budaya yang berbeda.
KESIMPULAN
Komunikasi baru
dikatakan komunikatif jika antara masing-masing pihak (komunikator dan
komunikan) mengerti bahasa yang digunakan dan paham terhadap apa yang
dibicarakan. Sedangkan, komunikasi Islam menekankan pada unsur pesan (message),
yakni risalah atau nilai-nilai Islam, dan cara (how), dalam hal ini
tentang gaya bicara dan penggunaan bahasa (retorika). Pesan-pesan keislaman yang
disampaikan tersebut disebut sebagai dakwah. Tipe dakwah dalam komunikasi
lintas budaya terdapat 6 tipe yaitu dakwah nafsiyah, dakwah fardiyah, dakwah
fi’ah, dakwah hizbiyah (jamaah), dakwah ummah dan dakwah syu’ubiyah qabailiyah
(antar suku bangsa).
Hambatan komunikasi antarbudaya (intercultural
communication barriers) adalah faktor-faktor baik fisik maupun psikologis
yang dapat mencegah atau menghalangi terjadinya komunikasi yang efektif. Hal
tersebut, disebabkan karena kebudayaan menyediakan cara-cara berpikir bagi
manusia; cara melihat, mendengar, dan menerjemahkan dunia sehingga satu kata
dapat dimaknai berbeda oleh orang-orang yang berbeda kebudayaan, bahkan meski
mereka berbicara dalam bahasa yang sama.
DAFTAR
PUSTAKA
Mahadi,
Ujang. “Komunikasi Islam dalam Lintas Budaya”, Jurnal At-Tabsyir, Vol.
6, No. 2,
2019.
Moulita.
“Hambatan Komunikasi Antarbudaya Di Kalangan Mahasiswa”, Jurnal Interaksi,
Vol.
2, No.1, 2018.
Zaini,
Ahmad. “Memahami Komunikasi Lintas Budaya Sebagai Sarana Dakwah”, Jurnal At-
Tabsyir,
Vol. 5, No. 1, 2017.
https://www.youtube.com/watch?v=COIb7bpfdWk
diakses pada tanggal 13 Juni 2021.



Komentar
Posting Komentar